Jumat, 20 Maret 2009


Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!
Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.




March 15, 2009

Spiritual

Bagaimana rasanya mengurus anak? Repot.

Tapi anehnya, kita merasa puas dan senang sesudahnya. Itulah spiritual : susah tapi senang.

Seperti paradoks hidup sehat. Untuk sehat fisik, kita harus banyak kerja fisik dan bukannya istirahat fisik. Untuk sehat pikiran, kita harus banyak mikir, bukan berhenti mikir. Untuk sehat spiritual, kita harus banyak memberi, bukan banyak menerima. (more…)




February 10, 2009

Red Cliff Deep Blue

Red Cliff

red cliff filmKalau Anda sempat menonton film Red Cliff, maka tentu Anda mengenal tokoh Zhuge Liang. Dalam sejarah Cina, Zhuge Liang dianggap tokoh paling cerdik di jaman periode Tiga Kerajaan (Sam Kok). Zhuge, yang tidak bisa silat, memiliki pengetahuan yang mendalam tentang strategi militer, pengetahuan alam, sekaligus pengetahuan teknik. Beberapa inovasi dinisbatkan kepadanya, salah satunya adalah senjata panah yang dapat melontarkan beberapa anak panah secara beruntun.

Dalam kisah Battle of Red Cliff, Zhuge bersama Zhou Yu memanfaatkan kondisi alam untuk mengalahkan pasukan lawan yang lebih besar(sekitar 50 ribu pasukan mengalahkan 220 ribu pasukan). Kisah di abad 3 tersebut menjadi salah satu kisah yang paling banyak diceritakan dalam masyarakat Cina. Zhuge Liang sendiri menjadi identik dengan atribut ‘kejeniusan’ dalam masyarakat Cina.

Zhuge Liang adalah contoh menarik dari orang dengan kecerdasan power (PQ) tinggi. (more…)




August 25, 2008

Salah sangka

Filed under: Konsep, Kiat, Cara Bahagia

Suatu ketika Arifin Panogoro, pemilik Medco, naik pesawat bersama karyawannya yang bule. Seseorang bertanya kepadanya, “Pak, kerja di mana?” Tentu saja pertanyaan yang salah karena Arifin pemilik bisnisnya, dia yang mempekerjakan si bule. Si penanya salah sangka, karena kulit Arifin lebih gelap maka dia diasumsikan penanya sebagai karyawannya si bule.

Saya juga pernah salah sangka. Suatu ketika saya menerima tamu seorang ibu dan bapak-bapak. Saya asyik berdialog dengan si bapak. Tak tahunya setelah saling menyodorkan kartu nama, tahulah bahwa ternyata si ibu yang pimpinan, si bapak yang anak buah. Malu. (more…)




July 7, 2008

Mengecilkan perut pakai sedotan (ala Jepang)

Gaya Jepang, kata yang nulis blog. Maksudnya dia lihat di acara TV Jepang.

Ini bukan sedot lemak perut. Ini murni sedotan biasa. Setelah saya coba, ternyata memang bagian perut terasa mengencang, seperti halnya kalau kita sit up.

Bener-bener ‘gue banget’ (cocok buat yang malas berolahraga). :)

Cocok buat ibu-ibu dan bapak-bapak yang pada mulai buncit (karena makmur maupun cacingan, hehe). (more…)




July 6, 2008

SEPIA Kaizen 1 : Bagaimana cara menerapkan SEPIA dalam kehidupan kita?

Umumnya setelah seseorang mengikuti pelatihan akan mengalami ‘pelunturan’ motivasi beberapa saat sesudahnya. Mungkin Anda pernah mengikuti pelatihan, baik gratis maupun mahal, kondisi penurunan semangat tetap bisa terjadi.

Bukan salah pelatihannya (karena nyatanya Anda selalu bersemangat saat berlangsung dan sesaat sesudah pelatihan). Bukan salah Anda juga (karena banyak orang mengalami hal yang sama seperti Anda). Memang alamiahnya demikian. Jika semua pelatihan bersifat menetap dengan instan, mestinya semua orang sudah berlipat lebih baik daripada diri mereka sebelumnya. Bahkan, kalau kita ini bisa terus mengalami suatu pengalaman secara menetap, mungkin kita tak akan lagi tertarik barang baru, film baru, nonton pertandingan bola yang baru, mencoba kegiatan baru, juga tak perlu memperbaiki cara shalat, atau mengaji Qur’an berulang-ulang. Kalau sesuatu itu bisa menetap instan dalam diri kita, maka dia tak perlu diperbaharui. Dan jelas itu bukan kodrat manusia. Manusia justru diciptakan dengan ‘kegembiraan yang akan meluruh dengan waktu’ supaya dia berusaha lagi dan berusaha lagi.

Jadi, jika hasil pelatihan Anda melenyap hingga tak berbekas, itu normal.

Tentu saja kondisi normal belum tentu kondisi terbaik. Pribadi yang unggul biasanya memang ‘tidak normal’ alias ‘istimewa’ karena dari waktu ke waktu ia berubah menjadi semakin baik dari kondisi sebelumnya. Nah, bagaimana kita menjadi pribadi ‘istimewa’ yang semakin hari semakin baik ini?

Jawabannya adalah sebuah rahasia kecil : terapkan dan ulangi.

Demikian hasil penelitian Ken Blanchard yang ditulis dalam Know Can Do!: Put Your Know-How Into Action. (sudah diterjemahkan ke Indonesia)

Menerapkan SEPIA

Untuk menerapkan SEPIA caranya sederhana. Gunakan perangkat (tools) SEPIA berikut ini.

1. Tujuh domain kehidupan

Mari kita perhatikan 7 bidang kehidupan kita, yaitu (ide dikutip dari Brian Tracy di buku Focal Point) : (more…)




June 30, 2008

Resep Istimewa

Bagaimana membuat sesuatu yang istimewa?

Dengan meyakininya.

Inilah resep rahasia mie istimewa keluarga Po dalam Kungfu Panda. Tidak ada bumbu rahasia. Tidak ada teknik rahasia. Keyakinan bahwa sesuatu itu istimewa akan membuatnya menjadi benar istimewa.

Kabarnya begitu pula kisah awal Coca Cola, resep istimewa yang awalnya adalah paten obat (namun sering diceritakan bermula dengan sebuah kuali ajaib!). (more…)


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2007/01/08/memimpikan-perusahaan-10-ribu-karyawan/

— Next Page »

Site Meter


Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here

Tentang Kesetiaan

Aku tidak pernah makan kepala ayam lagi. Opor kepala ayam yang nikmat itu… Setiap kali istriku memasak opor, aku selalu diberi bagian sayapnya. Ya sayap… Ini bukan hanya sekarang, tapi sejak saya nikah. Sejak lima puluh tahun yang lalu.

Aku tidak pernah makan sayap ayam lagi. Opor sayap ayam yang nikmat itu… Setiap kali aku memasak opor, aku selalu diberi bagian kepala. Ya kepala ayam… Ini bukan hanya sekarang, tapi sejak saya nikah. Sejak lima puluh tahun yang lalu.

Memang, aku sendiri yang memberi bagian kepala ayam kepada istriku. Karena bagiku, kepala ayam adalah makanan ternikmat yang pernah aku rasakan. Aku ingin istriku menikmati makanan yang ternikmat itu. Aku rela! Aku rela tidak memakannya demi istriku…

Memang, aku sendiri yang memberi bagian sayap ayam kepada suamiku. Karena bagiku, sayap ayam adalah makanan ternikmat yang pernah aku rasakan. Aku ingin suamiku menikmati makanan yang ternikmat itu. Aku rela! Aku rela tidak memakannya demi suamiku…

Bagiku, opor sayap adalah makanan yang menjijikkan. Bayangkan saja! Sayap yang bentuknya menggelikan itu terpaksa harus aku makan. Tapi tidak apa, yang penting istriku, Minah, bahagia bisa makan opor kepala ayam itu…

Bagiku, opor kepala adalah makanan yang menjijikkan. Bayangkan saja! Kepala ayam yang, jika ada cenger, bentuknya menggelikan itu terpaksa harus aku makan. Tapi tidak apa, yang penting suamiku, Kang Parto, bahagia bisa makan opor sayap ayam itu...


***Untuk Seseorang yang ingin belajar tentang kesetiaan. Bahwa setia tidak harus mengorbankan segalanya. Dan lagi-lagi, DN, terimakasih atas obrolannya.
Membedakan Zionisme dari Yahudi

HARUN YAHYA



Kirim artikel ini


Sebagaimana disebutkan sebelumnya, sikap toleransi yang wajib diperlihatkan kaum Muslimin terhadap orang-orang ahli kitab telah terbukti sepanjang sejarah Islam. Selama berabad-abad, umat Islam memperlakukan kaum Yahudi dengan sangat bersahabat dan mereka menyambut persahabatan ini dengan kesetiaan. Namun, hal yang telah merusak keadaan ini adalah Zionisme.

Zionisme muncul pada abad ke-19. Dua hal yang menjadi ciri menonjol Eropa abad ke-19, yakni rasisme dan kolonialisme, telah pula berpengaruh pada Zionisme. Ciri utama lain dari Zionisme adalah bahwa Zionisme adalah ideologi yang jauh dari agama. Orang-orang Yahudi, yang merupakan para mentor ideologis utama dari Zionisme, memiliki keimanan yang lemah terhadap agama mereka. Bahkan, kebanyakan dari mereka adalah ateis. Mereka menganggap agama Yahudi bukan sebagai sebuah agama, tapi sebagai nama suatu ras. Mereka meyakini bahwa masyarakat Yahudi mewakili suatu ras tersendiri dan terpisah dari bangsa-bangsa Eropa. Dan, karenanya, mustahil bagi orang Yahudi untuk hidup bersama mereka, sehingga bangsa Yahudi memerlukan tanah air tersendiri bagi mereka.

Hingga saat kemunculan Zionisme di Timur Tengah, ideologi ini tidak mendatangkan apapun selain pertikaian dan penderitaan. Dalam masa di antara dua perang dunia, berbagai kelompok teroris Zionis melakukan serangan berdarah terhadap masyarakat Arab dan Inggris. Di tahun 1948, menyusul didirikannya negara Israel, strategi perluasan wilayah Zionisme telah menyeret keseluruhan Timur Tengah ke dalam kekacauan.

Titik awal dari Zionisme yang melakukan segala kebiadaban ini bukanlah agama Yahudi, tetapi Darwinisme Sosial, sebuah ideologi rasis dan kolonialis yang merupakan warisan dari abad ke-19. Darwinisme Sosial meyakini adanya perjuangan atau peperangan yang terus-menerus di antara masyarakat manusia. Dengan mengindoktrinasikan ke dalam otak mereka pemikiran “yang kuat akan menang dan yang lemah pasti terkalahkan”, ideologi ini telah menyeret bangsa Jerman kepada Nazisme, sebagaimana orang-orang Yahudi kepada Zionisme.

Kini, banyak kaum Yahudi agamis, yang menentang Zionisme, mengemukakan kenyataan ini. Sebagian dari para Yahudi taat ini bahkan tidak mengakui Israel sebagai negara yang sah dan, oleh karenanya, menolak untuk mengakuinya. Negarawan Israel Amnon Rubinstein mengatakan: “Zionisme adalah sebuah pemberontakan melawan tanah air (Yahudi) mereka dan sinagog para Pendeta Yahudi”. (Amnon Rubinstein, The Zionist Dream Revisited, hlm. 19)

Pendeta Yahudi, Forsythe, mengungkapkan bahwa sejak abad ke-19, umat Yahudi telah semakin jauh dari agama dan perasaan takut kepada Tuhan. Kenyataan inilah yang pada akhirnya menimpakan hukuman dalam bentuk tindakan kejam Hitler (kepada mereka), dan kejadian ini merupakan seruan kepada kaum Yahudi agar lebih mentaati agama mereka. Pendeta Forsythe menyatakan bahwa kekejaman dan kerusakan di bumi adalah perbuatan yang dilakukan oleh Amalek (Amalek dalam bahasa Taurat berarti orang-orang yang ingkar kepada Tuhan), dan menambahkan: “Pemeluk Yahudi wajib mengingkari inti dari Amalek, yakni pembangkangan, meninggalkan Taurat dan keingkaran pada Tuhan, kebejatan, amoral, kebiadaban, ketiadaan tata krama atau etika, ketiadaan wewenang dan hukum.” (Rabbi Forsythe, A Torah Insight Into The Holocaust, http://www.shemayisrael.com/rabbiforsythe/holocaust.)

Zionisme, yang tindakannya bertentangan dengan ajaran Taurat, pada kenyataannya adalah suatu bentuk fasisme, dan fasisme tumbuh dan berakar pada keingkaran terhadap agama, dan bukan dari agama itu sendiri. Karenanya, yang sebenarnya bertanggung jawab atas pertumpahan darah di Timur Tengah bukanlah agama Yahudi, melainkan Zionisme, sebuah ideologi fasis yang tidak berkaitan sama sekali dengan agama.

Akan tetapi, sebagaimana yang terjadi pada bentuk-bentuk fasisme yang lain, Zionisme juga berupaya untuk menggunakan agama sebagai alat untuk meraih tujuannya.

Penafsiran Taurat yang Keliru oleh Kaum Zionis

Taurat adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa. Allah mengatakan dalam Alquran: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi),...” (QS. Al-Maa-idah, 5:44). Sebagaimana pula dinyatakan dalam Alquran, isi Taurat di kemudian hari telah dirubah dengan penambahan perkataan manusia. Itulah mengapa di zaman sekarang telah dijumpai “Taurat yang telah dirubah”.

Namun, pengkajian terhadap Taurat mengungkap keberadaan inti ajaran-ajaran Agama yang benar di dalam Kitab yang pernah diturunkan ini. Banyak ajaran-ajaran yang dikemukakan oleh Agama yang benar seperti keimanan kepada Allah, penyerahan diri kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, takut kepada Allah, mencintai Allah, keadilan, cinta, kasih sayang, menentang kebiadaban dan kedzaliman tertulis dalam Taurat dan bagian-bagian lain dari Kitab Perjanjian Lama.

Selain itu, peperangan yang terjadi sepanjang sejarah dan pembantaian yang terjadi ini dikisahkan dalam Taurat. Jika seseorang berniat untuk mendapatkan dalil – meskipun dengan cara membelokkan fakta-fakta yang ada – untuk membenarkan tindakan keji, pembantaian dan pembunuhan, ia dapat dengan mudah mengambil bagian-bagian ini dalam Taurat sebagai rujukan untuk kepentingan pribadinya. Zionisme menempuh cara ini untuk membenarkan tindakan terorismenya, yang sebenarnya adalah terorisme fasis, dan ia sangat berhasil. Sebagai contoh, Zionisme telah menggunakan bagian-bagian yang berhubungan dengan peperangan dan pembantaian dalam Taurat untuk melegitimasi pembantaian yang dilakukannya terhadap warga Palestina tak berdosa. Ini adalah penafsiran yang tidak benar. Zionisme menggunakan agama sebagai alat untuk membenarkan ideologi fasis dan rasisnya.

Sungguh, banyak orang-orang Yahudi taat yang menentang penggunaan bagian-bagian Taurat ini sebagai dalil yang membenarkan pembantaian yang dilakukan terhadap warga Palestina sebagai tindakan yang benar. The Neturie Karta, sebuah organisasi Yahudi Ortodoks anti Zionis, menyatakan bahwa, nyatanya, “menurut Taurat, umat Yahudi tidak diizinkan untuk menumpahkan darah, mengganggu, menghina atau menjajah bangsa lain”. Mereka menekankan lebih jauh bahwa, “para politikus Zionis dan rekan-rekan mereka tidak berbicara untuk kepentingan masyarakat Yahudi, nama Israel telah dicuri oleh mereka”. (Rabbi E. Schwartz, Advertisement by Neturei Karta in New York Times, 18 Mei 1993)

Dengan menjalankan kebijakan biadab pendudukan atas Palestina di Timur Tengah dengan berkedok “agama Yahudi”, Zionisme sebenarnya malah membahayakan agama Yahudi dan masyarakat Yahudi di seluruh dunia, dan menjadikan warga Israel atau Yahudi diaspora sebagai sasaran orang-orang yang ingin membalas terhadap Zionisme.